Kekerasan Seksual di Angkot, Cermin Kurangnya Perlindungan Perempuan
Jakarta - Belakangan ini kita mendengar maraknya kekerasan seksual sampai dengan pembunuhan yang dilakukan di angkutan umum. Korban yang kesemuanya perempuan ini mengalami tindakan kekerasan seksual bahkan penghilangan nyawa di dalam angkutan umum yang merupakan salah satu sarana transportasi yang sehari-hari mereka gunakan.
Apa yang salah dalam kondisi ini? Apakah ini diakibatkan karena faktor kekerasan semata saja yang dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab? Atau ada peranan lain yang menyebabkan hal ini terjadi.
Perempuan Rentan Kekerasan
Indonesia merupakan salah satu negara yang perempuannya rentan mengalami kekerasan terutama kekerasan seksual. Tidak berlebihan jika dikatakan hal ini awalnya bermula dari ditolerirnya bentuk-bentuk pelecehan kepada perempuan di ruang publik tanpa ada yang merasa bersalah.
Kita sering melihat anak-anak muda yang nongkrong di gang ataupun di tempat-tempat seperti mal yang sering meledek perempuan dengan suatu ungkapan yang berbau seksual. Saya pernah 6 tahun naik bus pulang pergi Tangerang-Jakarta dan sangat sering melihat kondektur, timer (preman yang menjaga terminal bayangan) yang suka memegang (maaf) pantat penumpang perempuan jika ingin naik bus yang cukup tinggi.
Apalagi banyak juga yang sengaja merangkulkan tangannya ke bahu untuk mengajak masuk ke bus yang ditumpangi. Hal ini mau tidak mau diterima dengan 'gondok' tanpa bisa berbuat apa-apa. Faktornya karena perempuan-perempuan ini jarang yang kedapatan berani melawan tindakan-tindakan pelecehan itu. Atau jika berani malah dihardik oleh yang melakukan hal tidak senonoh itu.
Ada juga pelecehan seksual yang dilakukan saat menunggu bus TransJakarta yang pernah ramai dibincangkan baru-baru ini. Kereta api juga jadi tempat untuk melakukan pelecehan seksual buat kaum perempuan dan itu seringkali juga sulit untuk dilaporkan karena seringkali korban merasa malu dan yang berwenang pun sering tidak terlalu serius menanggapi hal ini.
Gangguan Jiwa Terkait Seksual
Kalau ditanya apakah ada orang-orang yang memang mengalami gangguan jiwa terkait seksual yang mau melakukan hal-hal pelecehan seksual tersebut, jawabannya memang ada. Ada orang yang mendapatkan kepuasan dari mempertontonkan alat kelaminnya kepada orang lain, biasanya pria kepada wanita dan mengalami kepuasan kalau si wanitanya ketakutan akibat hal itu.
Ada juga yang suka mendapatkan kenikmatan seksual dari menggesekan alat kelaminnya ke perempuan tanpa merasa perlu diketahui. Tapi orang-orang yang secara diagnosis terbukti mengalami gangguan jiwa jenis ini tidak terlalu signifikan jumlahnya pada pelaku-pelaku pelecehan seksual pada perempuan. Kebanyakan yang melakukannya atas dasar iseng semata yang didasari tidak hormatnya mereka kepada perempuan.
Pola Pikir yang Salah
Perempuan memang sering dianggap makluk yang lemah dan dianggap tidak mampu berbuat apa-apa jika situasi yang dihadapi tidak memungkinkan. Untuk kasus pelecehan di angkutan umum, seharusnya kesalahan jangan ditimpakan kepada perempuan yang dianggap berpakaian merangsang lawan jenisnya atau salah mereka sendiri naik angkutan umum.
Hai Bung, ini bukan masalah pakaian yang perempuan gunakan atau salah mereka naik kendaraan umum, tapi ini adalah masalah apakah kita mampu menghormati perempuan dengan tidak melakukan perlakukan yang melecehkan mereka. Andai membayangkan kalau pelecehan itu terjadi pada ibu atau saudara perempuan kita, apakah Anda masih bisa memakluminya?
Hal lainnya adalah bahwa aparat perlu bertindak tegas pada pelaku-pelaku kekerasan seksual seperti ini. Jangan biarkan mereka bebas tanpa hukuman yang berat. Karakter masyarakat kita masih memerlukan suatu ketegasan hukuman untuk mencegah hal-hal buruk terulang lagi. Mereka masih sulit untuk dihimbau karena pola pikir yang berbeda-beda.
Semoga ke depan tidak akan ada lagi kekerasan pada perempuan. Salam sehat jiwa.
*) Dr Andri, SpKJ adalah psikiater, pengamat kesehatan jiwa.
0 komentar:
Posting Komentar